Halal bi halal via daring

Sarjito 27 Mei 2020 09:45:11 WIB

Di Indonesia tradisi demi tradisi terjaga dengan lestari, termasuk kebiasaan bermaaf-maafan di hari raya Idul Fitri. Namun perubahan kondisi, seperti saat pandemi Covid19 seperti saat ini mendorong kita untuk melakukan perubahan cara penyelenggaraan Syawalan.

Social distancing yang diserukan semua pihak akibat upaya pencegahan penularan wabah Corona, mau tidak mau mempengaruhi pola tradisi Syawalan yang telah berjalan dari dulu hingga sekarang. Yang tadinya penuh dengan pertemuan fisik dan tatap muka, kini dilakukan dengan lebih intens dengan penggunaan fasilitas teknologi, media sosial dan aplikasi obrolan (Whatsapp dan lainnya).

Tak pelak, era teknologi yang mengubah pola kebiasaan kita saat ini, menyediakan ruang perenungan bagi kita semua. Apakah kita benar-benar sepenuh hati menyampaikan pesan teks atau bergambar kepada orang lain dengan cara yang tepat? Atau tren ini hanya dijalani oleh kita sebab sekadar mengikuti pola tanpa ada ketulusan dan kehati-hatian dari hati kita? Lalu bagaimana baiknya cara kita berkomunikasi daring dalam rangka bermaaf-maafan?

 

Permohonan maaf dengan membangun kesan akrab

Kebiasaan membagikan meme dan teks, terutama terkait dengan suasana hari lebaran dalam rangka bermaaf-maafan, dari sisi waktu menghabiskan kesempatan fokus kita pada aktivitas yang spontan. Kita dituntut untuk membuat semacam template untuk memenuhi unsur-unsur komunikasi visual lewat teknologi komunikasi.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung

Lokasi Giriasih

tampilkan dalam peta lebih besar